Selasa, 01 September 2009

Sopan Santun Dalam Memakai Bahasa Pada Orang Batak Toba

Horas bah tegur seseorang terhadap seseorang Batak Toba akan merasa diejek dengan selam itu, karena kesalahan mempergunakan bahasa. Yang baik adalah dengan ucapan horas ba yang maksudnya selamat sejahtera kawan.
Membuat – buat tekanan bahasa pada pertemuan yang tidak tempatnya dengan mencontoh – contoh dialek Batak, juga dianggap merupakan ejekan. Sebab itu pakailah tekanan bahasa yang wajar, tidak dibuat – buat.
Ada satu keunikan mempergunakan bahasa itu untuk berkomunikasi.
Misalnya : bahasa yang sifatnya kasar adalah menunjukan persahabatan bagi yang sudah akrab dan bahasa yang sifatnya halus bagi yang sifatnya masuh dalam pergaulan umum.
Ho yang artinya kau sifatnya kasar dapat dipergunakan bagi orang telah merasa khikmat dan akrab dalam persahabatan. Tidak akrab rasanya apabila yang sudah bersahabat akrab itu mempergunakan perkataan hamu yaitu anda yang sifat bahasanya halus.
Demikian halnya mempergunakan bahasa hamu maksudnya anda yang bahasa itu sifatnya halus adalah wajar dipergunakan dalm pergaulan yang masih umum. Tidak boleh mempergunakan perkataan ho karena sifat bahasanya adalah kasar.
Sifat bahasa yang kasar dapat dipergunakan bersopan/santun dalam batas – batas stratipikasi sosial yang lebih tinggi kepada stratipikasi sosial yang lebih rendah dan pada hubungan yang dirasa telah akrab pada pergaulan sehari – hari termasuk di dalamnya hubungan stratipikasi sosial yang sejajar. Itupun masih ada batas – batasannya mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar itu yang lebih tinggi kepada yang lebih muda/rendah.
Misalnya seorang yang terhormat mempergunakan perkataan langkam yang maksudnya engkau terhadap yang lebih rendah adalah tidak pada tempatnya karena khikmat bahasa itu tidak pantas dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.
Perasaan khikmat bahasa itu dalam budaya rasa adalah antara hubungan yang sejajar dan akrab. Demikian juga dari yang lebih rendah tidak boleh mempergunakan perkataan engkau trhadap yang lebih tinggi. Sebab itu berkomunikasi dengan bahasa agar terwujud sopan santun didalamnya. Baiklah mempelajari sifat bahasa dan perasaan khikmat budaya rasa keke rabatan masyarakat Batak Toba. Sudah lumrah pada suku – suku bangsa di Indonesia mempergunakan bahasa yang sifatnya halus terhadap yang dihormati dan boleh mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar terhadap yang diayomi.
Mempergunakan kata ganti orangpun harus hati – hati apabila sifat bahasa itu tidak sesuai dengan perasaan khikmat budaya rasa kekerabatan masyarakat Batak Toba. Misalnya budaya rasa kekerabatan yang sejajar sesuai dengan kekerabatan itu tidaklah pantas mempergunakan bahasa – bahasa halus, karena itu tidak menunjukkan keakraban kekerabatan, sebab itu dalam setiap percakapan dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar menunjukkan keakraban.
Demikian dalam benntuk pergaulan umum yang sudah akrab dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar dan sebaliknya pergunakanlah bahasa yang sifatnya halus pada pergaulan umum yang masih dalam batas – batas kawan yang belum bersahabat, termasuk didalamnya dalam panggilan atas sebutan nama asli, nama gelar atau marga.
Perasaan khikmat budaya rasa itu dalam kekerabatan Batak Toba sulit digambarkan dengan kata – kata tetapi dapat dirasakan sebagai warisan nilai budaya yang masih disikap prilakukan oleh pemilik budaya itu.
Sifat terbuka akan terasa bagi yang sudah akrab dan menahan diri pada pergaulan yang masih umum. Misalnya seorang Batak penganut agama Kristem akan merasa tidak sopan menyebut babi apabila ada yang beragama Islam disekitarnya. Sebutan penghormatan diadakan dengan menyebut b-dua yang maksudnya babi dan b-satu yang maksudnya biang atau anjing.
Babi dua b-nya dan biang satu b-nya. Nilai yang terdapat dalm sebutan itu bahwa orang Batak selalu memilih bahasa yang halus untuk menghormati sekitarnya.
Banyak kata – kata lain yang tumbuh sedemikian rupa akibat pencarian bahasa agar orang lain tidak tersinggung. Apabila orang Batak berusaha demikian maka orang Batak pun mengharapkan yang demikian pula. Tetapi apabila perasaan demikian tidak mendapat penghormatan dari sekitarnya maka akan timbullah kekasaran terbuka yang mengakibatkan tiada batas tindakannya.
Memang adalah sangat baik mempelajari sopan santun kekerabatan sesuai dengan istilah kekerabatan itu agar terdapat tenggang rasa satu sama lain dalam wujud kerukunan suku – suku bangsa di Indonesia.
Manat unang tartuktuk nanget unang tarjollung. Maksudnya hendaklah dalam setiap pergaulan dalam bentuk hati – hati agar jangan terjerumus kepada bentuk kekerasan. Hendaklah segala tindakan dipikirkan lebih dahulu baru dilakukan agar jangan ada silang – sengketa pada hubungan sosial budaya antara sesama manusia. Sebab itu hubungan sopan – santun pada istilah ke kekerabatan berikut ini hendaklah dipahami dalam – dalam sebagai dasar bersosial budaya dalam hubungan kekerabatan masyarakat Batak Toba adalah menjadi titik tolak berkomunikasi untuk sesamanya termasuk orang lain agar ada saling pengertian dalam hubungan suku – suku bangsa di Indonesia.
Karena tak kenal maka tak saying. Dengan mempergunakan budaya rasa kekerabatan Batak Toba akan dapatlah dirasakan perasaan khikmat apa yang terpatri pada hubungan kekerabatan itu dengan sikap yang dilakukan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Gabung Dong....

My Pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO