Selasa, 01 September 2009

Sopan Santun Dalam Memakai Bahasa Pada Orang Batak Toba

Horas bah tegur seseorang terhadap seseorang Batak Toba akan merasa diejek dengan selam itu, karena kesalahan mempergunakan bahasa. Yang baik adalah dengan ucapan horas ba yang maksudnya selamat sejahtera kawan.
Membuat – buat tekanan bahasa pada pertemuan yang tidak tempatnya dengan mencontoh – contoh dialek Batak, juga dianggap merupakan ejekan. Sebab itu pakailah tekanan bahasa yang wajar, tidak dibuat – buat.
Ada satu keunikan mempergunakan bahasa itu untuk berkomunikasi.
Misalnya : bahasa yang sifatnya kasar adalah menunjukan persahabatan bagi yang sudah akrab dan bahasa yang sifatnya halus bagi yang sifatnya masuh dalam pergaulan umum.
Ho yang artinya kau sifatnya kasar dapat dipergunakan bagi orang telah merasa khikmat dan akrab dalam persahabatan. Tidak akrab rasanya apabila yang sudah bersahabat akrab itu mempergunakan perkataan hamu yaitu anda yang sifat bahasanya halus.
Demikian halnya mempergunakan bahasa hamu maksudnya anda yang bahasa itu sifatnya halus adalah wajar dipergunakan dalm pergaulan yang masih umum. Tidak boleh mempergunakan perkataan ho karena sifat bahasanya adalah kasar.
Sifat bahasa yang kasar dapat dipergunakan bersopan/santun dalam batas – batas stratipikasi sosial yang lebih tinggi kepada stratipikasi sosial yang lebih rendah dan pada hubungan yang dirasa telah akrab pada pergaulan sehari – hari termasuk di dalamnya hubungan stratipikasi sosial yang sejajar. Itupun masih ada batas – batasannya mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar itu yang lebih tinggi kepada yang lebih muda/rendah.
Misalnya seorang yang terhormat mempergunakan perkataan langkam yang maksudnya engkau terhadap yang lebih rendah adalah tidak pada tempatnya karena khikmat bahasa itu tidak pantas dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.
Perasaan khikmat bahasa itu dalam budaya rasa adalah antara hubungan yang sejajar dan akrab. Demikian juga dari yang lebih rendah tidak boleh mempergunakan perkataan engkau trhadap yang lebih tinggi. Sebab itu berkomunikasi dengan bahasa agar terwujud sopan santun didalamnya. Baiklah mempelajari sifat bahasa dan perasaan khikmat budaya rasa keke rabatan masyarakat Batak Toba. Sudah lumrah pada suku – suku bangsa di Indonesia mempergunakan bahasa yang sifatnya halus terhadap yang dihormati dan boleh mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar terhadap yang diayomi.
Mempergunakan kata ganti orangpun harus hati – hati apabila sifat bahasa itu tidak sesuai dengan perasaan khikmat budaya rasa kekerabatan masyarakat Batak Toba. Misalnya budaya rasa kekerabatan yang sejajar sesuai dengan kekerabatan itu tidaklah pantas mempergunakan bahasa – bahasa halus, karena itu tidak menunjukkan keakraban kekerabatan, sebab itu dalam setiap percakapan dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar menunjukkan keakraban.
Demikian dalam benntuk pergaulan umum yang sudah akrab dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar dan sebaliknya pergunakanlah bahasa yang sifatnya halus pada pergaulan umum yang masih dalam batas – batas kawan yang belum bersahabat, termasuk didalamnya dalam panggilan atas sebutan nama asli, nama gelar atau marga.
Perasaan khikmat budaya rasa itu dalam kekerabatan Batak Toba sulit digambarkan dengan kata – kata tetapi dapat dirasakan sebagai warisan nilai budaya yang masih disikap prilakukan oleh pemilik budaya itu.
Sifat terbuka akan terasa bagi yang sudah akrab dan menahan diri pada pergaulan yang masih umum. Misalnya seorang Batak penganut agama Kristem akan merasa tidak sopan menyebut babi apabila ada yang beragama Islam disekitarnya. Sebutan penghormatan diadakan dengan menyebut b-dua yang maksudnya babi dan b-satu yang maksudnya biang atau anjing.
Babi dua b-nya dan biang satu b-nya. Nilai yang terdapat dalm sebutan itu bahwa orang Batak selalu memilih bahasa yang halus untuk menghormati sekitarnya.
Banyak kata – kata lain yang tumbuh sedemikian rupa akibat pencarian bahasa agar orang lain tidak tersinggung. Apabila orang Batak berusaha demikian maka orang Batak pun mengharapkan yang demikian pula. Tetapi apabila perasaan demikian tidak mendapat penghormatan dari sekitarnya maka akan timbullah kekasaran terbuka yang mengakibatkan tiada batas tindakannya.
Memang adalah sangat baik mempelajari sopan santun kekerabatan sesuai dengan istilah kekerabatan itu agar terdapat tenggang rasa satu sama lain dalam wujud kerukunan suku – suku bangsa di Indonesia.
Manat unang tartuktuk nanget unang tarjollung. Maksudnya hendaklah dalam setiap pergaulan dalam bentuk hati – hati agar jangan terjerumus kepada bentuk kekerasan. Hendaklah segala tindakan dipikirkan lebih dahulu baru dilakukan agar jangan ada silang – sengketa pada hubungan sosial budaya antara sesama manusia. Sebab itu hubungan sopan – santun pada istilah ke kekerabatan berikut ini hendaklah dipahami dalam – dalam sebagai dasar bersosial budaya dalam hubungan kekerabatan masyarakat Batak Toba adalah menjadi titik tolak berkomunikasi untuk sesamanya termasuk orang lain agar ada saling pengertian dalam hubungan suku – suku bangsa di Indonesia.
Karena tak kenal maka tak saying. Dengan mempergunakan budaya rasa kekerabatan Batak Toba akan dapatlah dirasakan perasaan khikmat apa yang terpatri pada hubungan kekerabatan itu dengan sikap yang dilakukan.

Continue lendo >>

Sopan Santun Dalam Memakai Bahasa Pada Orang Batak Toba


Horas bah tegur seseorang terhadap seseorang Batak Toba akan merasa diejek dengan selam itu, karena kesalahan mempergunakan bahasa. Yang baik adalah dengan ucapan horas ba yang maksudnya selamat sejahtera kawan.
Membuat – buat tekanan bahasa pada pertemuan yang tidak tempatnya dengan mencontoh – contoh dialek Batak, juga dianggap merupakan ejekan. Sebab itu pakailah tekanan bahasa yang wajar, tidak dibuat – buat.
Ada satu keunikan mempergunakan bahasa itu untuk berkomunikasi.
Misalnya : bahasa yang sifatnya kasar adalah menunjukan persahabatan bagi yang sudah akrab dan bahasa yang sifatnya halus bagi yang sifatnya masuh dalam pergaulan umum.
Ho yang artinya kau sifatnya kasar dapat dipergunakan bagi orang telah merasa khikmat dan akrab dalam persahabatan. Tidak akrab rasanya apabila yang sudah bersahabat akrab itu mempergunakan perkataan hamu yaitu anda yang sifat bahasanya halus.
Demikian halnya mempergunakan bahasa hamu maksudnya anda yang bahasa itu sifatnya halus adalah wajar dipergunakan dalm pergaulan yang masih umum. Tidak boleh mempergunakan perkataan ho karena sifat bahasanya adalah kasar.
Sifat bahasa yang kasar dapat dipergunakan bersopan/santun dalam batas – batas stratipikasi sosial yang lebih tinggi kepada stratipikasi sosial yang lebih rendah dan pada hubungan yang dirasa telah akrab pada pergaulan sehari – hari termasuk di dalamnya hubungan stratipikasi sosial yang sejajar. Itupun masih ada batas – batasannya mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar itu yang lebih tinggi kepada yang lebih muda/rendah.
Misalnya seorang yang terhormat mempergunakan perkataan langkam yang maksudnya engkau terhadap yang lebih rendah adalah tidak pada tempatnya karena khikmat bahasa itu tidak pantas dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.
Perasaan khikmat bahasa itu dalam budaya rasa adalah antara hubungan yang sejajar dan akrab. Demikian juga dari yang lebih rendah tidak boleh mempergunakan perkataan engkau trhadap yang lebih tinggi. Sebab itu berkomunikasi dengan bahasa agar terwujud sopan santun didalamnya. Baiklah mempelajari sifat bahasa dan perasaan khikmat budaya rasa keke rabatan masyarakat Batak Toba. Sudah lumrah pada suku – suku bangsa di Indonesia mempergunakan bahasa yang sifatnya halus terhadap yang dihormati dan boleh mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar terhadap yang diayomi.
Mempergunakan kata ganti orangpun harus hati – hati apabila sifat bahasa itu tidak sesuai dengan perasaan khikmat budaya rasa kekerabatan masyarakat Batak Toba. Misalnya budaya rasa kekerabatan yang sejajar sesuai dengan kekerabatan itu tidaklah pantas mempergunakan bahasa – bahasa halus, karena itu tidak menunjukkan keakraban kekerabatan, sebab itu dalam setiap percakapan dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar menunjukkan keakraban.
Demikian dalam benntuk pergaulan umum yang sudah akrab dapat dengan mempergunakan bahasa yang sifatnya kasar dan sebaliknya pergunakanlah bahasa yang sifatnya halus pada pergaulan umum yang masih dalam batas – batas kawan yang belum bersahabat, termasuk didalamnya dalam panggilan atas sebutan nama asli, nama gelar atau marga.
Perasaan khikmat budaya rasa itu dalam kekerabatan Batak Toba sulit digambarkan dengan kata – kata tetapi dapat dirasakan sebagai warisan nilai budaya yang masih disikap prilakukan oleh pemilik budaya itu.
Sifat terbuka akan terasa bagi yang sudah akrab dan menahan diri pada pergaulan yang masih umum. Misalnya seorang Batak penganut agama Kristem akan merasa tidak sopan menyebut babi apabila ada yang beragama Islam disekitarnya. Sebutan penghormatan diadakan dengan menyebut b-dua yang maksudnya babi dan b-satu yang maksudnya biang atau anjing.
Babi dua b-nya dan biang satu b-nya. Nilai yang terdapat dalm sebutan itu bahwa orang Batak selalu memilih bahasa yang halus untuk menghormati sekitarnya.
Banyak kata – kata lain yang tumbuh sedemikian rupa akibat pencarian bahasa agar orang lain tidak tersinggung. Apabila orang Batak berusaha demikian maka orang Batak pun mengharapkan yang demikian pula. Tetapi apabila perasaan demikian tidak mendapat penghormatan dari sekitarnya maka akan timbullah kekasaran terbuka yang mengakibatkan tiada batas tindakannya.
Memang adalah sangat baik mempelajari sopan santun kekerabatan sesuai dengan istilah kekerabatan itu agar terdapat tenggang rasa satu sama lain dalam wujud kerukunan suku – suku bangsa di Indonesia.
Manat unang tartuktuk nanget unang tarjollung. Maksudnya hendaklah dalam setiap pergaulan dalam bentuk hati – hati agar jangan terjerumus kepada bentuk kekerasan. Hendaklah segala tindakan dipikirkan lebih dahulu baru dilakukan agar jangan ada silang – sengketa pada hubungan sosial budaya antara sesama manusia. Sebab itu hubungan sopan – santun pada istilah ke kekerabatan berikut ini hendaklah dipahami dalam – dalam sebagai dasar bersosial budaya dalam hubungan kekerabatan masyarakat Batak Toba adalah menjadi titik tolak berkomunikasi untuk sesamanya termasuk orang lain agar ada saling pengertian dalam hubungan suku – suku bangsa di Indonesia.
Karena tak kenal maka tak saying. Dengan mempergunakan budaya rasa kekerabatan Batak Toba akan dapatlah dirasakan perasaan khikmat apa yang terpatri pada hubungan kekerabatan itu dengan sikap yang dilakukan.

Continue lendo >>

Bagaimanan Sopan Santun Dalam Kehidupan Orang Batak

Menyebut dan memanggil nama asli seseorang masyarakat Batak Toba hanya terbatas dari yang mengayomi kepada yang diayomi dan kepada anak – anak yang belum berkeluarga. Menyebut dan memanggil nama asli seseorang yang sudah berkeluarga tidak mengandung sopan santun dan orang yang mempunnyai nama tersebut akan tersinggung dan kelaurganya merasa terhina karena mereka masih dianggap anak – anak. Sesame anak – anaklah yang diperkenankan memanggil nama asli satu sama lain.
Itupun harus dilihat berdasarkan tingkat kelahiran kekerabatan.
Misalnya seseorang anak namanya si Togap dan seorang anak lain namanya si Togar. Apabila si Togap dalam keluarga itu pada tingkat kelahiran adalah adik dari ayah si Tagor maka si Togar dikatakan tidak sopan apabila Si Tagor berani menyebut atau memanggil nama si Togap. Untuk memanggil si Togap oleh si Tagor harus memakai istilah kekerabatan dengan amang uda. Si Togar dapat menyebut dan memanggil nama si Togar, karena tingkat kelahiran si Togap lebih tua atau lebih tinggi dari si Togar, walaupun ,isalnya si Tagor lebih tua dari si Togap. Tingkat kelahiran atau strasifikasi sosiallah yang menentukan siapa – siapa yang dapat menyebut dan memanggil nama asli seseorang. Itulah sebabnya memberi nama dalam keluarga jangan ada yang sama pada keluarga itu sampai melingkupi keluarga luas.
Seseorang yang sudah berkeluarga sebelum mempunyai anak ia beri nama gelar dari anak abangnya. Misalanya si Togap tadi apabila sudah kawin ia diberi nama gelar dari nama adik si Togar, kita katakana saja si Ulina. Maka nama gelar si Togap berobah menjadi Amani Ulina.
Gelar itulah yang dipergunakan untuk memanggil si Togap, baik oleh ayah si Togap maupun oleh abang – abangnya. Tidak wajar lagi abang – abang atau ayah – ibu si Togap memanggil nama Togap, cukuplah dengan Amani Ulina saja, walupun abang – abang dan orang tuanya masih boleh menyebut dan memanggil nama aslilnya.
Jika abang – abang atau kakak – kakak dan ayah ibu si Togap masih memanggil nama Togap sebagaimana panggilan pada masa kanak – kanak., isteri si Togap akan marah dan tersinggung dengan perasaan bahwa karena suaminya itu masih anak – anak.
Untuk memangngil Amani Ulina oleh anak – anak abang atau anak kakaknya tidak boleh dengan gelar nama itu, cukup dengan istilah kekerabatan itu yaitu amanguda oleh anak abangnya dan tulang oleh anak kakaknya.
Mungkin amanguda dan tulanng mereka banyak, amanguda dan tulangn mana yang dimaksud. Untuk memberi informasi boleh menyebut nama amanguda-nya itu dengan sebutan amanguda. Si Ulina tidak boleh menyebut dengan amanguda Amani Ulina, apalagi untuk memanggil nama gelar itu adalah sangat pantang.
Termasuk isteri Amani Ulina tidak wajar memanggil suaminya dengan Amani Ulina tetapi harus dengan Amang ni si Ulina atau dengan ale. Demikian juga Amani Ulina tidak wajar memanggil isterinya dengan Nai Ulina, yang wajar untuk memanggil isterinya adalah dengan Inang ni si Ulina atau ale juga untuk sesame suami isteri memanggil dengan ale. Abang – abang dan ayah Amani Ulina tidak wajar pula menyebutkan nama gelar Nai Ulina, tetapi harus menyebut dengan nasida ni Amani Ulina maksudnya isteri Amani Ulina. Demikian pula Amani Ulina dan Nai Ulina yang boleh menyebut nama gelar abang dan kakak iparnya tidak boleh menyebut nama gelar abang dan kakak iparnya tidak boleh menyebut Aman Togar atau Nan Togar tetapi harus dengan dahahang doli amangn si Togar oleh Nai Ulina. Terhadap Nan Togar mereka menyebut angkang boru si Togar.
Demikianlah sebutan dan panggilan didalam keluarga sampai kelaurga luas dan panggilan semarga bergantung pada stratipikasi sosial keluarga itu.
Apabila Amani Ulina sudah mempunyai anak dan diberi namanya si Maringan maka nama gelarnya berobah menajadi Amani Maringan dan isterinya menajadi Nai Maringan. Jika Amani Ulina dan Nai Ulina serasi memakai nama gelar anak abangnya itu boleh saja terus memakainya tidak memakai nama anaknya sendiri. Tetapi adalah lebih baik apabila memakai nama gelar anaknya sendiri.
Nama gelar ini diambil dari anak sulung atau putrid sulung tiap keluarga kecuali oleh yang memakai seperti Amani Ulina dapat mengambil dari anak kedua dan seterusnya. Pengaruh pemberian nama gelar ini oleh satu keluarga mengobah pula dengan nama gelar vertikal keatas. Jika ayah Togar anak sulung dan si Togar pula anak sulung juga ayah si Togar mempunyai gelar Aman Togar dan ibunya Nai Togar maka ayah Aman Togar berobah menjadi Ompu Togar Doli dan ibu dari Aman Togar menjadi Ompu Togar Boru.
Nama gelar ini adalah untuk panggilan umum sebagai ganti panggilan nama asli. Sudah kita katakan bahwa tidak sopan memanggil atau menyebut nama seseorang yang telah berkeluarga kalau tidak pada tempatnya. Dalam pemanggilan nama gelar seseorang ini adapula variasinya dengan ketentuan, apabila yang menyebut atau yang memanggil itu lebih tinggi stratipikasi sosialnya, nama gelar itu boleh langsung disebut. Dan apabila ia yang menyebut memanggil itu terdapat budaya rasa yang harus sungkan kepada yang akan disebut maka untuk memanggilnya harus didahului dengan istilah kekerabatan, baru disambung dengan si dan seterusnya dengan nama yang menjadi gelar. Misalnya untuk Nai Maringan oleh haha doli harus menyebutnya nasida inanta si Maringan dan sebaliknya Nai Maringan mau menyebut nama haha dolinya tidak boleh dengan Amani Tagor harus dengan nasida amanta si Tagor, yang sejajar stratipikasi sosialnya boleh juga menyebut nama gelar, tetapi tidak enak rasanya dalam budaya rasa sebab itu untuk memperluasnya harus didahului istilah kekerabatan pakai ni dan seterusnya si baru nama gelar yang dipakai.
Misalnya isteri terhadap suami dan sebaliknya seperti Nai Maringan terhadap Amani Maringan adalah lebih baik menyebut amang ni si Maringan dan sebaliknya Amani Maringan terhadap Nai Maringan harus atau lebik baik dengan inang ni si Maringan. Sesame saudara demikian untuk menyebut atau memanggilnya kecuali dalam budaya rasa terdapat ada rasa sungkan karena hubungan didalam kekerabatan, kelak berikut ini akan dijelaskan.
Dalam menyebut – nyebut nama asli dan nama gelar atau memanggil adalah sensitive bagi masyarakat Batak Toba, apabila tidak pada tempatnya. Bahkan anak – anak akan berkelahi sungguh – sungguh apabila nama asli atau nama gelar ayahnya disebut – sebut.
Jika demikian untuk apa nama itu diberikan kepada seseorang kalau tidak untuk disebut dan untuk dipanggil. Inilah budaya rasa masyarakat Batak Toba, bahwa pantang menyebut nama yang sudah digolongkan terhormat, nama asli itu sudah dianggap sacra bagian pribadi dan yang mempunyai “ Mana ”
Adalah pantang menyebut – nyebut nama yang telah dianggap suci. Nama pribadi, nama tempat yang telah dianggap suci itu tidak boleh disebut harus diganti dengan sebutan nama gelar, gelar namartua dan ompunta.
Misalnya adalah tabu menyebut – nyebut Debata yaitu Tuhan Allah. Untuk menyebut Debata diganti dengan menyebut Ompuntai, pada hal ompu adalah nenek, ompunta artinya nenek kita, tetapi Ompuntai maksudnya adalah Debata atau Allah. Nama asli itu adalah untuk identitas bukan untuk disebut.
Boleh juga nama asli itu disebut tetapi pada tempatnya. Untuk mencegah kekeliruan penyebutan nama asli seseorang, karena penyebutannya misalnya tidak pada tempatnya maka masyarakat Batak Toba memperkenalkan dirinya hanya dengan huruf permulaan nama aslinya baru dilanjutkan dengan marga, misalnya Dj. Gultom yang untuk penulis kepanjangannya Djalaut Gultom. Tak dapat diingkari bahwa dalam pergaulan sehari – hari ada saja pertemuan atau perjumpaan masyarakat Batak Toba dengan suku – suku lain di Indonesia. Dari pada menimbulkan sakit hati dari kawan bertemu atau sahabat atau orang lain yang menyebut nama aslinya, karena kawan itu belum memahami arti dan khikmat nama asli berdasarkan budaya Batak Toba dari pada sakit hati lebih baiklah mendekkan nama aslinya dan melamjutkan dengan marga untuk memperkenalkan dirinya.
Inilah sebabnya masyarakat Batak Toba memperkenalkan diri dengan permulaan nama dan marganya. Sering didengar apabila mayarakat Batak Toba memperkenalkan dirinya dengan cara itu, ada satu tuduhan bahwa Batak Toba itu menonjol – nonjolkan puaknya dan bersifat kedaerahan. Bukan demikian halnya. Memperkenalkan diri dengan permulaan nama dan marga itu adalah disebabkan bahwa penyebutan nama asli pada masyarakat Batak Toba yang tak pada tempatnya dianggap suatu penghinaan.
Kedua, memperkenalkan diri dengan marga, adalah satu usaha untuk mengetahui dimana keberadaan seseorang pada perjumpaan itu sesuai dengan falsafah Dalihan Na Tolu. Memperkenalkan diri dengan marga adalah merupakan titik tolak untuk berkomunikasi berdasarkan Dalihan Na Tolu.
Menyebut dan memanggil seseorang dengan marganya adalah merupakan sikap – sikap sopan yang dianggap hormat bagi masyarakat Batak Toba. Jika ingin bersahabat dengan masyarakat batak Toba panggillah ia dengan marganya tidak dengan nama aslinya. Apabila seseorang masyarakat Batak Toba dipanggil dengan nama aslinya bukan dengan marganya, kalaupun ia menyahut dapat dipastikan bahwa ada rasa tidak enak terselip dalam hatinya. Apabila pemanggilan nama asli itu terus berkelanjutan ia akan meminta agar dipanggil dengan marganya.
Jika panggilan itu masih terus berdasarkan nama aslinya ia akan marah dan mungkin akan mengamuk, karena ia akan merasa dihina masih anak – anak lagi.
Memang aneh juga prihal panggilan diri masyarakat Batak Toba ini. Apabila panggilan atau sebutan sesama semarga, menyebut dan memanggil mereka dengan marganya pada masyarakat Batak Toba adalah tidak enak atau tidak wajar. Saya sendiri bermarga Gultom memanggil orang lain dengan Gultom, maka perasaan yang saya panggil dengan Gultom itu tidak enak. Dia akan bertanya apa rupanya marga saya.
Apabila saya sebutkan bahwa saya juga Gultom, dia akan menyindir apakah saya tidak tau adat sopan santun. Untuk memanggil sesama semarga tidak enak memanggilnya dengan marganya, karena itu adalah pertanda perasaan khikmat agak jauh dalam budaya rasa kekerabatan panggilan sesama semarga adalah dengan istilah kekerabatan atau dengan menyebut nama- gelar yaitu Amani Polan misalnya.
Memanggil seseorang dengan marganya, atau menannya seseorang dengan marganya atau mencari seseorang dengan menyebut marganya, sasaran belum terarah betul. Seseorang mencari saya dan menyebutnya pak Gultom. Apabila yang ditanya tidak mengenal saya maka ia akan bertanya : Gultom banyak pak, Gultom mana yang bapak maksud. Apabila yang mencari itu bukan Batak, iapun akan heran pula, berapa rupanya Gultom, karena selama ini ia menganggap Gultom itu adalah nama yang bersangkutan. Untuk mengetahui identitas seseorang Batak dengan identitas marga, lengkapilah identitas itu dengan nama tempat, pekerjaan, asalnya dan nama aslilnya. Apabila kita mencari seseorang dengan marganya, yang memberi informasi akan bertanya :
Yang dari mana pak ? O… yang tinggal di Jalan Turi, yang di tanya mungkin belum jelas, maka ia akan bertanya : apa pekerjaan pak ? yang kerja di pendidikan jalan Cik di Tiro itu. Masih belum jelas bagi yang memberi informasi. Dari mana asalnya pak ? Dari Ajibata, O… bapak tua si Ben, santabi pak namanya Djalaut Gultom. Ya, ya, ya memang itu namanya.
Jika yang itu adalah amang tuaku sekarang mereka tidak disini karena berpergian. Rumahnya di Jalan Turi 38 Medan Pak. Maafkan saya Pak, yang saya tau amang tua itu masih di Tarutung rupanya sudah pindah ke Medan, dari sinilah bapak pak akan bapak jumpai rumahnya nanti. Terima kasih.
Penyebutan nama asli itu diperkenankan asalkan pada tempatnya seperti dialog tadi. Dan menyebutnya pun harus diketahui perkatan santabi yang artinya maaf baru menyebut nama asli itu oleh yang merasa sungkan kepada yang akan disebut. Tetapi bagi yang mengayomi artinya stratipikasi sosialnya lebih tinggi dapat saja menyebutnya tanpa didahulukan perkataan santabi.
Seseorang laki – laki, berjumpa dengan laki – laki lain semarga dengan ibu orang pertama tadi, ia akan memanggil laki – laki lain itu dengan tulang, tidak menjadi soal apakah laki – laki lain itu masih anak – anak atau sudah ujur.
Sebaliknya laki – laki lain itu akan membalas dengan panggilan amang boru kepada seseorang itu bukan dengan panggilan bere. Jadi panggilan tulang dan amang boru dalam hal ini adalah panggilan kehormatan.
Jika dilihat dari sistem kekerabatan apabila seseorang memanggil yang lain dengan tulang mak balasan panggilan adalah bere yaitu panggilan kemanakan kepada paman dan balasan panggilan bere dari paman kepada kemanakan. Hal ini baru terasa enak apabila keluarga itu masih dekat. Dalam hal yang bersifat umum, panggilan tulang hendaklah dibalas dengan panggilan amang boru.
Kesimpulan yang dapat diambil dalam hal menyebut, memanggil nama asli nama gelar istilah kekerabatan, bergantung kepada stratipikasi sosialnya dan jauh dekatnya budaya rasa atau perasaan khikmat kekerabatan yang bersangkutan. Amksudnya apabila dirasa hubungan itu akrab dan bersahabat boleh juga menyebut nama aslinya dan apabila menyangkut budaya rasa dan perasaan khikmat, dalam batas – batas umum sebaliknya ia disebut dan dipanggil dengan marganya.

Continue lendo >>

Budaya Rasa, Perasaan Khikmat dan Sopan Santun Kekerabatan Masyarakat Batak Toba

Horas adalah salam masyarakat Batak Toba tehadap sesamanya dan orang lain serta ungkapan pengharapan hati kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selamat sejahtera, rohani dan jasmani. Salam dan ungkapan Horas ini adalah budaya rasa, perasaan hikmat dan sopan santun masyarakat Batak Toba. Dari pada asal mula perkatan horas ini baiklah kita coba menganalisa dari ungkapan di bawah ini.
Horas Ma Hita mandingin pir ma tondi matogu.
Terjemahan:
Selamatlah kita dalam kesejukan, keraslah roh dalam kekukuhan. Maksudnya selamat sejahteralah jasmani dan kukuh kuatlah rohani.
Apabila dibandingkan perkataan horas dengan perkataan pir maka perkataan horas itu berasal dari perkataan koras yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah keras serupa artinya dengan perkataan pir yang artinya juga adalah keras, kuat atau kukuh dalam bahasa Indonesia.
Kesimpulan perkataan horas itu berasal dari perkataan koras yang artinya keras, kukuh dan kuat. Perobahan keras menjadi horas adalah kebiasaan Batak Toba yang membunyikan k dengan h karena pada Batak Toba huruf k itu dibunyikan dengan h.
Sopan santun kekerabatan masyarakat Batak Toba kita mulai dengan salam horas, memang demikianlah hendaknya, karena sikap perilaku sopan santun tersebut berpengharapan agar selalu sehat sejahtera jasmani dan rohani sesuai dengan pengharapan pandangan hidup berdasarkan budaya rasa Dalihan Na Tolu.

Continue lendo >>

Istilah dan Panggilan Partuturan Kekerabatan Batak Toba

Untuk mempermudah pemahaman istilah kekerabatan dan panggilan kekerabatan masyarakat Batak Toba adalah lebih baik apabila kita membuat contoh dan di mulai dari keluarga Batih atau keluarga inti. Misalnya Amani Ucok dengan isterinya Nai Ucok mempunyai enam anak, tiga laki – laki dan tiga perempuan. Keenam bersaudara adalah seayah – seibu disebut saama – saina.
Anak – anak memanggil ayahnya amang dan memanggil ibunya inang. Sesama saudara laki – laki dinamai marhaha – maranggi. Yang abang memanggil adiknya anggi atau anggia dan adiknya memanggil abangnya hahang atau dahahang atau angkang.

Sesama saudara perempuan dinamai marpariban. Yang kakak memanggil adiknya anggi dan adiknya memanggil kakaknya angkang. Sesama saudara laki – laki terhadap sesame saudara perempuan dinamai mariboto atai marito dengan panggilan timbal balik satu sama lain adalah ito.
Hubungan putra-putri Amani Ucok/Nai Ucok terhadap ayah-ibu Amani Ucok disebut marompang suhut dengan panggilan terhadap kakek laki – laki dengan ompung suhut doli dan terhadap nenek perempuan dengan ompung suhut boru, atau cukup dengan panggilan ompung oli terhadap kakek laki – laki dan ompung boru terhadap nenek perempuan. Dan seterusnya vertikal ke atas terhadap nenek ayah dan nenek dari nenek dan seterusnya cukup dengan panggilan ompung. Sebaliknya ayah ibu dari Amani Ucok terhadap putra – putri Amani Ucok – Nai Ucok di sebut Marpahompu dengan panggilan pahompu atau boleh juga dengan panggilan ompung juga. Jadi dapat dengan panggilan timbale balik yaitu ompung.
Hubungan putra – putri dengan kakek ayah disebut marama – mangulahi dengan panggilan satu sama lain timbal balik dengan istilah ompung.
Hubungan putra – putri Amani Ucok – Nai Ucok terhadap abang laki – laki Amani Ucok disebut maramang tua dengan panggilan amang tua dan terhadap isteri amang tua disebut marinang tua dengan panggilan Inang tua.
Sebaliknya hubungan amang tua – inang tua terhadap putra – putri amani ucok nai ucok disebut maranak dengan panggilan anaha terhadap putra dan boru putri. Hubungan putra – putri Amani Ucok – Nai Ucok terhadap adik perempuan Nai Ucok disebut marinanguda-pariban dengan panggilan inanguda dan terhadap suaminya disebut maramanguda-pariban dengan panggilan amanguda.
Sebaliknya inanguda-amanguda pariban terhadap putra-putri Amani Ucok-Nai Ucok disebut maranak ni paribu terhadap putra dengan panggilan anaha dan marboru ni pariban terhadap putri dengan panggilan boru.
Hubungan putra-putri Amani Ucok terhadap orang tua Nai Ucok disebut Marompungabao dengan panggilan ompungbao doli kepada laki – laki dan ompungbao boru terhadap perempuan atau cukup dengan panggilan ompung saja. Hubungan Amani Ucok terhadap isteri abangnya disebut marangkang boru dengan panggilan angkang boru atau angkang saja.
Sebaliknya hubungan isteri abang terhadap Amani Ucok di sebut maranggi doli dengan panggilan anggi atau anggia. Hubungan Amani Ucok terhadap isteri adiknya disebut maranggi boru, dengan panggilan nasida anggi boru atau dengan inang atau hamu inang. Sebaliknya hubungan isteri adik terhadap Amani Ucok disebut marhaha doli atau mardahahangdoli dengan panggilan nasida hahadoli, nasida dahahangdoli atau dengan amang atau hamu amang. Dengan demikian halnya akan diterangkan kelak pada sopan – santun kekerabatan masyarakat Batak Toba.
Hubungan Amani Ucok terhadap suami – suami saudara – saudara perempuan disebut marlae-boru dengan panggilan lae. Sebaliknya suami – suami saudara – saudara perempuan Amani Ucok terhadap Amani Ucok disebut marlae tunggane dengan panggilan lae saja atau tunggane atau hamu lae atau hamu tunggane.
Hubungan Amani Ucok terhadap saudara – saudara perempuan Nai Ucok disebut marpariban dengan panggilan angkang terhadap kakak Nai Ucok dan anggi terhadap adik Nai Ucok. Sebaliknya hubungan kakak Nai Ucok terhadap Amani Ucok disebut maranggi pariban dengan panggilan anggi dan hubungan adik perempuan Nai Ucok terhadap Amani Ucok disebut marangkang pariban dengan panggilan angkang.
Hubungan Amani Ucok terhadap isteri saudara – saudara laki – laki Nai Ucok disebut marinangbao dengan panggilan nasida inang bao atau hamu inangbao atau inang bao atau nasida inanta. Sebaliknya hubungan inangbao terhadap Amani Ucok disebut maramangbao dengan panggilan nasida amang bao atau hamu anang bao atau amang bao atau amang atau nasida amanta.
Hubungan Amani Ucok terhadap suami – suami dari saudara – saudara perempuan Nai Ucok disebut marpariban dengan pangilan angkang terhadap suami kakak Nai Ucok dan anggi terhadap suami adik perempuan Nai Ucok. Sebaliknya suami kakak Nai Ucok memanggil anggi terhadap Amani Ucok dan angkang oleh suami adik perempuan Nai Ucok.
Hubungan Nai Ucok terhadap terhadap abang laki – laki Amani Ucok disebut marhaha doli atau mardahahangdoli dengan panggilan nasida haha doli atau nasida dahahang doli atau cukup dengan amang atau hamu amang atau nasida amanta dahahang doli. Sebaliknya hubungan abang Amani Ucok terhadap Nai Ucok disebut maranggi boru dengan panggilan nasida anggi boru atau cukup dengan inang atau hamu inang atau nasida inanta anggi boru. Hubungan Nai Ucok terhadap isteri abang Amani Ucok disebut marangkang boru dengan panggilang angkang boru atau angkang dan boleh pula dengan inang. Sebaliknya isteri abang Amani Ucok terhadap Nai Ucok disebut maranggi bukan maranggi boru dengan panggilan anggi.
Hubungan Nai Ucok terhadap adik laki – laki Amani Ucok disebut maranggi bukan maranggi doli dengan panggilan anggi. Sebaliknya hubungan adik laki – laki Amani Ucok terhadap Nai Ucok disebut marangkang boru dengan panggilan angkang. Hubungan Nai Ucok terhadap isteri adik laki – laki Amani Ucok disebut maranggi bukan maranggi boru dengan panggilan anggi. Sebaliknya hubungan isteri adik Amani Ucok terhadap Nai Ucok disebut marangkang boru dengan panggilan angkang atau dengan inang.
Nai Ucok isteri Amani Ucok beserta isteri – isteri saudara Amani Ucok disebut paniaran keluarga Amani Ucok dengan panggilan kumpulan untuk itu oleh pihak lain adalah paniaran keluarga Amani Ucok.
Sebagai contoh, semua wanita yang bersuamikan marga Gultom disebut atau dipanggil paniaran ni Gultom.
Hubungan Ni Ucok terhadap saudara perempuan Amani Ucok disebut mareda dengan panggilan eda dan sebaliknya demikian pula timbal balik atau satu sama lain. Hubungan Nai Ucok terhadap suami saudara perempuan Amani Ucok disebut maramangbao dengan panggilan baoniba atau amangbao, atau amang. Sebaliknya hubungan suami saudara perempuan Amani Ucok terhadap Nai Ucok disebut marinangbao dengan panggilan baonami atau inang bao atau inang. Hubungan perempuan dengan isteri saudara laki – laki disebut mareda dengan panggilan eda timbal balik satu sama lain.

Istilah bao dapat diganti dengan istilah besan. Jadi maramang bao serupa dengan maramang besan atau marbao serupa dengan marbesan.

Hubungan putra Amani Ucok terhadap putra dari abangnya adalah marampara dengan panggilan umum ampara dan hubungan yang lebih khusus mereka disebut marhaha maranggi dengan panggilan yang lebih khusus anggia atau anggi oleh putra Amani Ucok terhadap putra abangnya dan anggia oleh putra abangnya terhadap putra Amani Ucok.

Demikian pula hubungan putra Amani Ucok terhadap putra terhadap putra adiknya disebut marampara dengan panggilan umum amapara. Dalam hubugan yang lebih khusus mereka disebut marhaha maranggi dengan panggilan yang lebih khusus anggi oleh putra Amani Ucok terhadap putra adiknya dan sebaliknya panggilan dahahang atau hahang oleh putra adik terhadap putra Amani Ucok.

Hubungan putra Amani Ucok terhadap putri abang dan adik disebut maribo atao marito dengan panggilan ito satu sama lain timbal balik. Jelasnya hubungan putra-putri sesama saudara laki – laki disebut mariboto atau marito dengan panggilan ito tadi.

Hubungan putri Amani Ucok terhadap putri abang-adiknya disebut marpariban dengan panggilan angkang dan anggi atau anggia sesuai dengan keadaan tingkat kedudukan orang tua mereka, siapa yang anbangan dan siapa yang adikan. Jelasnya hubungan anak – anak putri dari sesame saudara laki – laki disebut marpariban dengan panggilan angkang dan anggia dari keluarga senenek itu. Malahan hubungan putri semargapun disebut juga marpariban dengan panggilan tadi. Demikian pula dengan putra atau anak laki – laki semarga disebut pula marhaha maranggi atau mardongan sabutuhan dengan panggilan yang tadi pula sesuai dengan tingkat kedudukan marga mereka masing – masing mana abangan dan adikan.

Hubungan anak laki – laki Amani Ucok dengan anak laki – laki dari saudara perempuan Nai Ucok adalah marlae dengan panggilan satu sama lain dengan panggilan lae dengan ketentuan anak Amani Ucok laki – laki adalah lae hula – hula ( lae tunggane ) dari anak laki – laki saudara perempuan si Amani Ucok dan sering pula disebut bahwa putra dari Amani Ucok tadi adalah parrajaon dari putri saudara perempuan Amani Ucok.
Sebaliknya putra saudara perempuan Amani Ucok terhadap putra Amani Ucok adalah marlae boru atau sering disebut parboruon. Hubungan putra Amani Ucok dengan putrid saudara perempuan Amani Ucok adalah marito dengan panggilan ito satu sama lain.
Hubungan putri Amani Ucok terhadap putra saudara perempuan Amani Ucok adalah marpariban dengan panggilan pariban satu sama lain dengan hubungan yang lebih khusus putri Amani Ucok maranak ni amboru terhadap anak laki – laki saudara perempuan dari Amani Ucok adalah marboru ni tulang terhadap putri Amani Ucok dengan panggilan boru ni tulang atau pariban.
Hubungan putri Amni Ucok dengan putrid saudara perempuan Amani Ucok adalah mareda dengan panggilan eda satu sama lain. Dari penjelasan – penjelasan di atas hubungan kekerabatan anak – anak Amani Ucok dengan isterinya Nai Ucok dengan anak – anak saudara – saudara Amani Ucok baik saudara perempuan terutama anak saudara laki – laki adalah satu nenek dengan istilah Saompu.
Hubungan putra Amani Ucok dengan putra saudara laki – laki Nai Ucok adalah marlae dengan panggilan lae, dan dalam hubungan yang lebih khusus putra Amani Ucok marlae tunggane atau marlae hula – hula terhadap putra saudara laki – laki Nai Ucok dan sebaliknya putra saudara laki – laki Nai Ucok terhadap putra Amani Ucok terhadap putra Amani Ucok adalah marlae boru atau parboruan atau pamoruon.
Hubungan putra Amani Ucok dengan putri saudara laki – laki Nai Ucok adalah marpariban dengan panggilan pariban dan di dalam hubungan yang lebih khusus adalah marboru ni tulang dan siperempuan maranakni amboru terhadap anak laki – laki Amani Ucok dengan panggilan anak ni namboru.
Hubungan putri Amani Ucok dengan putra saudara laki – laki Nai Ucok adalah mariboto atau marito dengan panggilan ito timbale balik.
Hubungan putri Amani Ucok dengan putri saudara laki – laki Nai Ucok adalah mareda dengan panggilan eda timbale balik. Sengaja hubungan ini dibuat lebih terperinci supaya pada tulisan berikutnya lebih mudah untuk memahaminya.
Bagaimana kedudukan Amani Ucok menjadi hula – hula dari saudaranya perempuan dan menjadi boru dari saudara laki – laki isterinya.
Demikianlah hubungan anak laki – laki dari Amani Ucok menjadi Lae tunggane dari putra anak saudara perempuan Amani Ucok dan menjadi lae boru terhadap putra saudara laki – laki isteri Amani Ucok.
Dengan penjelasan ini bagaimana hubungan anak – anak saudara perempuan Amani Ucok terhadap saudara laki – laki Nai Ucok ?. Anak dari saudara perempuan Amani Ucok terhadap saudara laki – laki Nai Ucok adalah martulang mangihut atau martulang rorobot artinya tutur berpaman mengikuti anak – anak pamannya yang berpaman kepada saudara laki – laki Nai Ucok dengan panggilan tulang juga.
Bagaimana hubungan anak – anak Amani Ucok terhadap anak – anak saudara laki – laki Nai Ucok demikian pulalah hubungan anak – anak saudara – saudara Amanni Ucok terhadap anak – anak saudara laki – laki Nai Ucok kecuali anak saudara perempuan Amani Ucok demikian timbale balik.
Hubungan Amani Ucok dengan ayahnya adalah maramang dengan panggilan amang dan terhadap ibunya marinang dengan panggilan inang. Sebaliknya ayah – ibunya dengan hubungan maranak dengan panggilan anaha atau dengan namanya. Hubungan Amani Ucok dengan ayah dari bapaknya dan ibu dari bapaknya adalah marompung dengan panggilan ompung dan sebaliknya ompungnya marpahompu kepadanya dengan panggilan pahompu. Hubungan Amani Ucok dengan kakek dari bapaknya adalah marama mangulahi dengan panggilan ompung juga. Demikian dengan timbale balik dari ompung ke cucunya dengan istilah maranak mangulahi dengan panggilan ompung atau pahompu.
Hubungan Nai Ucok terhadap orang tua Amani Ucok adalah marmsimatua dan dengan hubungan yang lebih khusus adalah marsimatua doli terhadap mertua laki – laki dengan panggilan amang simatua atau amang saja dan marsimatua boru terhadapa mertua perempuan dengan panggilan inang simatua atau inang saja atau namboru. Sebaliknya hubungan orang tua Amani Ucok terhadap Nai Ucok adalah marparumaen atau bermenantu dengan panggilan inang parumaen oleh mertua laki – laki dan anggi oleh mertua perempuan.
Hhubungan Nai Ucok terhadap kakek Amani Ucok atau kakek ayah Amani Ucok adalah serupa mengikuti suaminya Amani Ucok dan sebaliknya.
Demikianlah sistem kekerabatan suku Batak hanya 4 generasi vertikal ke atas.
Hubungan turunan seayah – seibu dinamai saama, hubungan turunan satu ayah dengan berbeda ibu dinamai saama pulik ina artinya satu ayah lain ibu. Hubungan turunan satu kakek dinamai saompu dan hubungan turunan kakek dari ayah beserta saudara – saudaranya adalah saompu parsadaan.
Hubungan Amani Ucok dengan orang tua Nai Ucok adalah marsimatua dengan hubungan yang lebih khusus terhadap mertua laki – laki adalah marsim,atua doli dengan panggilan amang simatua atau amang saja dan terhadap mertua perempuan adalah marsimatua boru dengan panggilan inang simatua atau inang saja.
Semua keluarga Nai Ucok dari garis laki – laki adalah hula – hula dari Amani Ucok dengan panggilan hula – hula. Sebaliknya hubungan orang tua Nai Ucok terhadap Amani Ucok adalah marhela dengan panggilan amanghela atau hela atau amang saja. Hubungan Amani Ucok terhadap saudara laki – laki ibunya adalah martulang dengan panggilan tulang terhadap paman laki – laki dan nantulang terhadap istri tulang. Sebaliknya tulang dan nantulangnya adalah maribebere dengan panggilan ibebere atau bere.
Jadi bolehlah dikatankan bahwa marsimatua dabn martulang adalah sejajar tetapi hubungan hikmatnya terasa ada perbedaanya. Hubungan Nai Ucok terhadap tulang Amani Ucok adalah maramang bukan martulang seperti Amani Ucok karena Nai Ucok sendiri dianggap adalah boru juga dari paman Amani Ucok.
Bagaimana hubungan maranak – marboru demikianlah hubungan Nai Ucok terhadap paman Amani Ucok malahan Nai Ucok lebih hormat terhadap tulang Amani Ucok. Hubungan Amani Ucok dengan mertuanya atau dengan turunan mertuanya adalah marhula – hula dengan panggilan seperti yang kita tulis terdahulu. Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudaranya sama terhadap saudara laki – laki dari ibunya adalah martulang dengan panggilan timbale balik seperti tulisan terdahulu.
Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudara saompu terhadap turunan saudara – saudara laki – laki dari neneknya adalah marbona tulang dengan panggilan tulang sebaliknya bona tulang memangngil dengan amang boru. Tidak menjadi soal besar atau kecil, kawin atau belum kawin pangilan ini sama saja.
Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudara saompu parsadaan atau saama mangulahi terhadap turunan saudara laki – laki isteri kakek ompu parsadaan adalah marbona ni ari dengan panggilan tulang juga atau tulang rajanami dan sebaliknya turunan bona ni ari memanggil dengan amang boru tidak persoalan kecil dan besar, kawin atau tidak kawin sama saja asal laki – laki. Hubungan Amani Ucok dan saudara –saudaranya saama terhadap saudara perempuan adalah marboru suhut dengan panggilan lae dan balasannya adalah tunggane.
Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudara saama terhadap turunana saudara perempuan ayahnya adalah marboru tubu dengan panggilan amang boru atau lae dan panggilan balasan adalah tulang atau lae.
Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudara saompu terhadapa turunan saudara – saudara perempuan kakeknya laki – laki adalah marboru natuatua dengan panggilan amang boru dengan panggilan balasan tulang dan panggilan ini sama saja terhadap yang kecil, besar, kawin atau yang belum kawin.
Hubungan Amani Ucok dan saudara – saudara saompu parsadaan terhadap turunan saudara perempuan dari kakek ompu parsadaan adalah marboru sihaboloan dengan panggilan amang boru dan panggilan balasan dengan tulang tidak menjadi soal besar, kecil, kawin belum kawin adalah sama asal laki – laki.
Dengan penjelasan ini dapatlah diketahui hubungan kekerabatan Suku Batak dengan Dalihan Na Tolu empat generasi vertikal keatas baik dari garis dongan tubu maupun dari garis hula – hula dan boru.
Apabila disambung – sambungkan kaitan ini hubungan ini terasa luas sekali tidak tergambarkan dengan tulisan. Sebagai misal apabila keluarga batih ( keluarga inti ) yang bersaudara banyak baik saudara laki – laki maupun saudara perempuan mempunyai turunan.
Sampai empat generasi vertikal ke bawah dalam hubungan, Dalihan Na Tolu akan ada isterilah Sabonaniari, sabona tulang, sada hula – hula. Karena bonaniari itu, bona tulang itu, tulang itu atau hula – hula itu mempunnyai banyak saudara perempuan yang kawin kepada keluarga marga lain. Walupun marganya berbeda boleh juga satu bonaniari. Demikian dengan yang bersaudara tentu kawin dengan perempuan tidak satu marga tentu hula – hula satu orang menjadi hula – hula dari orang bersaudara itu.
Demikian pula boru Sihaboloan, boru natuatua, boru tubu, boru suhut adalah banyak dari satu keluarga inti itu, membuat hubungan kaitan kekeluargaan ini secara horizontal sangat luas sekali. Disinilah peranan marga yang hendak dijelaskan lebih luas pada tulisan berikutnya.
Tetapi yang perlu diingat pada sistem kekerabatan Dallihan Na Tolu ini adalah siapa yang memegang pusat kegiatan atau suhut dalam satu kegiatan itulah yang menjadi titik tolak dengan sabutuha dan yang lain, hula – hula dan boru.
Adakalanya hula – hula itu menjadi boru dari suatu kegiatan dan sebaliknya boru itu mungkin menjadi hula – hula pada kegiatan lainnya.
Dan inilah sebabnya setiap suku Batak mengingat marga ibunya, marga nenek perempuan, marga isteri saudara – saudaranya marga suami saudara perempuan dan ayah dan nenek – neneknya dengan maksud agar dia dapat menentukan dimana kedudukannya pada suatu kegiatan.
Pada penjelasan terdahulu sering kita jumpai istilah pariban. Agar jangan mengkelirukan perlu dijelaskan bahwa : marpariban sesama perempuan adalah berkaka adik atau semarga. Marpariban sesama laki – laki asing bahwa isteri – isteri mereka adalah kakak adik atau semarga. Marpariban antara laki – laki dengan perempuan artinya adalah marboru ni tulang dan maranak ni namboru yang paling diperkenankan untuk kawin.
Di dalam hal panggilan berdasarkan istilah sistem kekerabatan boleh juga memanggil nama dengan aturan tertentu. Agar pannggilan ini tertuju kepada person yng lebih khusus maka setiap laki – laki atau perempuan yang sudah beranak diberi gelar dengan nama anaknya yng sulung.
Tidak menjadi soal apakah anaknya laki – laki atau perempuan.
Seorang laki – laki yang lahir sebelum diberi nama anak itu telah bernama si Bursok atau si Ussok sekarang ini popular dengan nama Ucok, dan jika perempuan namanya adalah si Tatap atau si Butet tetapi yang palingn popular adalah si Butet. Dengan demikian ayahnya akan digelari dengan Amani Ucok dan ibunya Nai Ucok jika anaknya laki – laki dan Amani Butet untuk ayah dan Nai Butet untuk ibu jika anak sulungnya perempuan.
Gelar ini akan segera berakhir jika anak sulungnya itu diberi nama. Jika anak sulungnya bernama Tagor maka ayahnya bergelar Aman Tagor atau Amani Tagor dan ibunya bergelar Nan Tagor atau Nai Tagor.
Status gelar kakeknya laki – laki pun berobah pula menjadi ompu Tagor Doli demikan nenek perempuan berobah menjadi ompu Tagor Boru.
Pengambilan gelar ini tidak boleh dari garis anak perempuan tetapi harus dari garis turunan laki – laki. Itulah sistem turunan suku Batak adalah patriniel. Pemberian gelar kepada nenek diambil dari anak sulung laki – laki. Anak sulung seorang nenek misalnya adalah perempuan dan anak ke dua adalah laki – laki. Walaupun anak sulung perempuan mempunyai anak sulung laki – laki dan anak sulung anak ke dua tadi adalah perempuan misalnnya bernama Ulima maka nama Ulima – lah yang berhak menjadi gelar orang tuanya dan neneknya yaitu, Amani Ulima bagi ayahnya dan Nai Ulima bagi ibunya serta ompu ni Ulima Doli bagi neneknya laki – laki dan ompu ni Ulima boru bagi neneknya perempuan.
Jika si Ulima belum lahir, sedang anak perempuan yang sulung sudah melahirkan gora misalnya, maka si kakek – nenek di gelar dengan panggilan ompung ni si Gora menandakan bahwa orang tua itu telah bercucu. Dalam hal gelar silsilah, nama adik laki – laki dari si Ulima – lah yang dipergunakan.
Pemberian gelar ini perlu dipahami karena upacara adat ada sangkut pautnya dengan gelar tersebut. Pemberian gelar ini sering dilakukan dengan upacara – upacara adat dengan jamuan makan dengan upacara tertentu.

Continue lendo >>

Prinsip Keturunan Batak Toba

Prinsip keturunan masyarakat Batak Toba adalah patrinial. Maksudnya adalah bahwa baris turunan etnis adalah dari anak laki – laki.
Anak laki – laki memegang peranan penting dalam kelanjutan generasi. Artinya apabila seseorang tidak mempunyai anak laki – laki hal itu dapat dianggap napunu karena tidak dapat melanjutkan silsilah ayahnya dan tidak akan pernah lagi diingat atau diperhitungkan dalam silsilah.
Napulu artinya adalah bahwa generasi seseorang sudah punah tidak berkelanjutan lagi pada silsilah Batak Toba apabila tidak seseorang itu tidak mempunyai anak laki – laki. Sebagai pertanda dari prinsip keturuan Batak Toba adalah marga.
Marga ini adalah asal – mula nama nenek moyang yang terus dipakai dibelakang nama diri satu – satu garis turunan. Dan rentetan vertical turunan marga itu sejak nama nenek moyang sampai saat sekarang menumbuhkan Silsilah Batak Toba.
Silsilah Batak Toba adalah salah satu yang sangat unik di dunia ini. Kita katakana sangat unik, karena dalam kehidupan sehari – hari pada masyarakat Batak Toba marga memegang peranan penting untuk menempatkan dirinya berkomunikasi terhadap sesame masyarakat itu sesuai dengan Dalihan Na Tolu. Sebagai misal, penulis adalah bermarga Gultom, berjumpa dengan marga Gultom yang lain, lalu bersapaan. Saya sendiri adalah Gultom generasi ke XV dari Parpodang Tujuan Laut dan Gultom teman bicara tadi memperkenalkan dirinya adalah Gultom generasi XVI dari raja Martabu Tujuan Laut. Dalam sikap kami berdua, dia akan memanggil atau menyebut saya dengan sebutan amang tua dan saya menyebut dia anaha karena dia turunan Raja Martabu dan saya sendiri turunan Porpodang dimana dalam silsilah bahwa Raja Martabu adalah adik Raja Parpodang dari Gultom Tujuan Laut. Saya generasi XV sedang dia generasi XVI dari si Toga Gultom, berarti saya lebih tua dilihat dari generasi sebab itu ia memanggil bapa tua atau amang tua terhadap saya walaupun misalnya umur saya lebih muda dari padanya. Dan sikap prilaku kamipun dalam pembicaraan akan menyesuaikan diri pada silsilah si Toga Gultom sesuai dengan moral kekerabatan Dalihan Na Tolu.
Pada tulisan di muka telah disinggung tentang pengertian perkataan batak yang terdapat pada bahasa Batak bahwa suku Batak itu adalah suku Murni atau Suku Sejati atau Suku Asli.
Kesimpulan demikian diambil bahwa Sistem keturunan Suku Batak adalah patrinal yaitu berdasarkan turunan laki – laki secara vertical.
Tidak boleh suku lain menjadi suku Batak karena di batasi sistem kekerabatan Suku Batak itu sendiri yang terkenal dengan silsilah marga – marga. Kalaupun seseorang diperkenankan memakai marga sesuai dengan penabalan marga itu sendiri kepada yang bersangkutan, Suku Batak atau marga lain akan keberatan. Keberatan mereka beralasan bahwa tidak menyukai suku pendatang baru itu diakui sebagai abang dari marga yang ada pada suku Batak Toba. Misalnya seseorang ditabalkan oleh Marga Situmorang menjadi orang batak dengan memberi marga kepada yang ditabalkan berhak memakaimarga situmorang. Saya sendiri marga Gultom akan merasa keberatan memanggil abang kepada suku pendatang yang telah diSitumorangkan tadi. Hal ini pula akan terjadi dari marga Situmorang sendiri. Bertepatan Situmorang yang menebalkan tadi adalah turunan anak sulung dari Tuan Situmorang, dengan demikian turunan Toga Siregar nomor satu dan sampai yang bungsu akan memanggil Situmorang pendatang tadi dengan panggilan abang. Hal inilah yang tidak disukai marga Situmorang lainnya dimana dalam sistem kekerabatan tidak memperkenankan marga tabalan pendatang itu menjadi abangan. Pada saat pemberian marga itu pada seseorangn atau kelompok itu masalah itu tidak dipertimbangkan karena di pengaruhi emosi kegembiraan atau karena pemberian marga itu hanya sekedar penghormatan. Apabila orang yang telah ditabalkan tadi tetap memakai marga Situmorang dan demikian pula turunannya maka marga Situmorang yang menabalkan tadi sudah mewariskan pertentangan pada Situmorang menyeluruh.
Hal demikian yang terjadi sampai sekarang ini, terjadi pertentangan pandangan di beberapa marga akibat pengadopsian anak oleh nenek moyang marga itu dahulu dan memberi marga kepada anak yang diadopsi.
Sampai saat sekarang ini marga turunan anak yang diadopsi tadi merasa tersisih dalam kehidupan sistem kekerabatan dan perasan itu masih ada pada mereka bahwa mereka bukan asli. Justru dalam peradatan hal ini terasa bagi turunan yang dimargakan bahwa mereka seolah – olah tersisih dari kehidupan kekerabatan Suku Batak.
Walaupun tidak diungkapkan dengan cara terbuka oleh turunan marga asli tetapi melalui perjabaran hal ini terungkap pula. Tentu ada pertannyaan mengapa hal itu terjadi. Jawaban berbisik akan mengungkapkan bahwa marga orang tersebut adalah tidak asli atau orang itu adalah turunan adopsi bukan anak asli dari nenk moyang. Mak terungkalah penyakit lama tentang asal usul mereka yang tidak asli.
Garis turunan laki – laki memegang peranan penting pada sistem kemasyarakatan Batak Toba. Anak laki – laki adalah raja atau panglima yang tidak ada taranya pada kelompok keluarga.
Seseorang keluarga yang tidak mempunnyai anak laki – laki akan merasa bahwa hidupnya adalah hampa. Terasa bagi seseorang itu bahwa silsilahnya akan punah dari silsilah Siraja Batak dan namanya tidak akan pernah diingat atau disebut orang lagi.
Nasib anak perempuan yang tidak mempunnyai saudara laki – laki akan hambar, karena tidak ada lagi tempat bertautan perlindungan sesuai dengan Dalihan Na Tolu. Gambaran kesedihan ini tergambar dalam satu syair: molo matipul hole-mi solu maup tu dia nama ho solu, molo mate amantai boru tulambang dia nama ho boru, boru naso mariboto. Yang artinya : jika kayuhmu itu patah wahai sampan, hanyut ke manakah kau gerangan wahai sampan, jika ayahmu telah meninggal wahai putrid kejurang manakah kau gerangan akan terdampar wahai putrid, putrid yang tidak mempunnyai saudara laki – laki.yah nasib anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki – laki tidak berhak mendapat warisan dari orang tua yang dianggap punu atau punah tidak dapat melanjutkan silsilahnya. Anak perempuan demikian dinamai Siteanon yang artinya semua harta warisan ayahnya tidak boleh ada padanya harus diwarisi anak laki – laki dari bapa tua atau bapa udanya
Walaupun demikian halnya peranan anak perempuan anak perempuan sangat berperan pula pada sistem keturunan masyarakat Batak Toba. Dibelakang layar atau forum terbuka peranan boru atau anak perempuan itu nampak penonjolannya. Peranan boru atau anak perempuan itu sangat pokok untuk menyelesaikan setipa masalah yang timbul pada kelompok keluarga.
Masalah apa saja yang timbul pada kelompok keluarga harus dapat diatasi oleh boru itu sendiri. Borulah penanggung jawab tersembunyi dan terbuka padakelompok keluarga.itulah sebabnya boru itu disebut Rajani Boru karena peranannya sangat penting pada setiap situasi keadaan keluarga. Berkat tanggung jawab boru itu, ia selalu dibujuk, disayangi, dikasihi dan dihormati. Janganlah sampai terjadi akibat tindakan anak laki – laki, anak boru menjadi tersinggung dan ngambek.
Jika hal demikian terjadi maka kelompok keluarga itu tidak akan sejahtera lagi. Sebab itu saudara laki – laki akan tetap menjaga kestabilan antara hubungan keluarga anak laki – laki dengan keluarga anak perempuan.
Seseorang anak laki – laki yang tidak mempunyai saudara perempuan, ia akan merasa bahwa hidupnya adalah hambar. Benar anak laki – laki sebagai panglima atau raja penaggung jawab pada kelompok keluarga, mengingat peranan boru yang amat penting pada setiap menyelesaikan masalah, boru itu tetap dihormati. Apabila seseorang laki – laki yang tidak mempunyai saudara perempuan, siapakah lagi yang dapat diajak bertukar pikiran atau untuk berdiskusi mengayuhkan kemajuan kelompok keluarga.
Anak laki – laki itu akan berlagu syair antara lain : sumando ahu, tusada sanggar na tarpunjung, nahapuloan, na meolmeol diulus alogo, sori ni aringki da inang, marsidangolon naso marujung, yang artinya : serupakah aku, bagaikan sebatang kepimping, jauh di pulau goyah dihembus angina, nasibku ini yah bunda, penuh penderitaan yang tidak akan berakhir. Maksudnya bahwa seorang anak laki – laki yang tidak bersaudara perempuan akan merasa goyah dihembus angina penderitaan yang tidak anak berakhir.
Pandangan hidup demikain terjadi adalah akibat falsafah Hidup Dalihan Na Tolu. Tiang tungku yang tiga tidak akan sempurna berfungsi apabila salah satu tungku ( dalihan ) dari Dalihan Na Tolu itu tidak ada
Sistem keturunan masyarakat Batak Toba adalah patrilinial. Walau garis turunan anak laki – laki memegang peranan penting dalam hal silsilah, dalam hal kelengkapan hidup, prinsip keturunan adalah Dalihan Na Tolu yang tegak pada prinsip, dongan tubu anak laki – laki dan boru anak perempuan sebagai titik tolak melengkapi kekerabatan Dalihan Na Tolu. Anak laki – laki dan anak perempuan titik tolak melengkapi Dalihan Na Tolu maksudnya bahwa sianak laki – laki akan beristeri dan pihak keluarga isteri disebut hula – hula. Anak perempuan akan bersuami dan keluarga pihak suami disebut boru. Maka lengkaplah unsur Dalihan Na Tolu yaitu : Dongan Tubu, Hula – hula dohot Boru.
Itulah sebabnya pada setiap pemberkataan perkawinan kita akan selalu mendengar syair : Iaklak ma tutu tu singkoru, tubuan anakma hamu tutu jala tubuan boru. Maksudnya, bagaikan kuliat kayu yang melekat pada batangnya dan bagaikan manik – manik yang di kalungkan dileher, demikianlah pengantin diharapkan melahirkan anak laki – laki yang melekat pada adat dan melahirkan anak perempuan yang mempunyai sifat keibuan. Demikianlah prisip keturunan masyarakat Batak Toba dengan patrinialnya lengkap dengan unsur Dalihan Na Tolu.
Justru karena prinsip keturunan patrinial inilah Silsilah Siraja Batak dapat berlanjut dengan kemurnian dan kesejatiannya. Seorang yang mengaku dirinya Batak Toba akan merasa malu memperkenalkan dirinya pada masyarakat Batak Toba itu sendiri apabila ia belum mengetahui asal – usulnya yaitu silsilahnya sendiri. Sampai sekarang ini banyak orang yang sengaja pulang ke Bona Pasogit tempat leluhurnya hanya untuk mencari atau mendapatkan silsilahnya.
Silsilah raja batak dengan marga adalah identitas Batak yang patrilial berdasarkan falsafat hidup Dalihan Na Tolu.

Continue lendo >>

Kelompok Kekerabatan Batak Toba

Pada umumnya perkawinan Batak Toba adalah monogami. Tetapi factor turunan terutama karena faktor turunan anak laki – laki terjadi pula pologami. Perkawinan sangat erat kaitannya dengan keluarganya, sedang perceraian sangat jarang terjadi dan sejauh mungkin diusahakan jangan sampai terjadi. Hal ini terjadi karena adat. Seseorang isteri yang diceraikan suaminya tidak akan mempunyai hubungan lagi dengan keluarga laki – laki baik anak sendiri, maupun keluarga lain.
Berpoligami sebenarnya sangat tidak diinginkan masyarakat Batak Toba. Dalam kehidupan sehari – hari orang yang berpoligami kurang mendapat penghargaan dari masyarakat sekitar.
Pandangan orang Batak Toba bahwa anaknya itulah yang paling berharga padanya. Turunan – turunan dari orang berpoligami dalam kenyataanya lebih banyak menderita karena percecokan. Pada hal anaklah yang paling penting. Dengan demikian masyarakat Batak Toba tidak menginginkan berpoligami, kecuali tidak ada turunan terutama turunan anak laki – laki.
Keluarga Batih Batak Toba adalah ripe.
Suami disebut ama dan isteri disebut ina.
Suami – isteri disebut Namarsaripe.
Apabila anak pertama lahir misalnya laki – laki dengan sendirinya nama bayi itu si Ucok, maka si ama namanya berobah status menjadi Amani Ucok dan si Ina namanya menjadi Ina ni si Ucok atau Nai Ucok
Dan sejak itu si Ama dan si Ina tidak boleh dipanggil lagi dengan nama aslinya. Dan apabila anak pertama perempuan dengan sendirinya nama bayi itu adalah si Butet. Dengan sendirinya nama bayi itu adalah si Butet. Dengan sendirinya nama si Ama adalah Amani Butet dan si Ina menjadi Nai Butet.
Anak – anak tidak boleh memanggil nama ayah dan ibunya. Untuk memanggil ibu adalah inang. Sedikit catatan bahwa amang – amang artinya adalah suami dan inang – inang artinya adalah isteri. Ama – ama adalah laki – laki dan kumpulan laki – laki yang sudah beristeri dan ina – ina adalah perempuan atau kumpulan perempuan yang sudah bersuami. Pengertian ama adalah ayah yang penuh tanggung jawab dan beribawa, dan pengertian ina adalah ibu yang penuh bertanggung jawab dan beribawa.
Keluarga suami – isteri dan anak – anaknya dinamai saripe.
Nasaripe artinya sekeluarga. Keluarga batih atau basic family Batak Toba itu sebagaimana disebutkan dimuka yaitu ripe adalah merupakan dasar perkembangan menuju keluarga luas. Anak laki – laki yang sudah beristeri dan amsih tinggal bersama dalam satu rumah diberikan temapat pada jabu suhut yaitu ruang sudut muka sebelah kiri pintu masuk. Pada umumnya di tempati anak sulung.
Anak laki – laki yang lain dan sudah beristeri diberikan temapat pada jabu soding yaitu ruang sudut muka sebelah kanan pintu masuk.
Sedang anak perempuan yang sudah bersuami dan atas persetujuan bersama antara keluarga laki – laki dan keluarga perempuan diberikan tempat pada jabu tamper pirinng yaitu ruang sudut kanan bagian belakang rumah tempat tinggal. Ayah dan ibu sebagai kepala keluarga menempati jabu bona yaitu ruang sudut kiri bagian belakang rumah tempat tinggal sebelah kanan pintu masuk.
Anak laki – laki sudah akil balik tidur di-Sopo. Sopo adalah bangunan lumbung padi. Sedang anak perempuan yang sudah akil – balik tidur bersama dengan gadis – gadis lain pada rumah janda jika ada dikampung itu. Jika rumah janda tidak ada para gadis – gadis tidur di-ruma dagang yang sengaja dibuat untuk itu.
Anak-anak yang belum akil-balik tidur dengan ayah ibunya. Cara hidup mereka adalah communal. Hidup dengan cara kekeluargaan ini dilaksanakan bersama atas pimpinan dan tanggung jawab ama atau ayah.
Masing – masing ada pembagian pekerjaan, apa yang menjadi tugas laki – laki dan apa pula yang menjadi tugas perempuan.
Semua berjalan dengan kebiasaan atau adat dan telah terperinci sesuai dengan kebiasaan adat itu. Dahulu masyarakat Batak menginginkan atau bercita – cita mempunyai turunan yang banyak, baik laki – laki maupun perempuan.
Jika keinginan itu terpenuhi tentu ada saja masalah pada keluarga itu tentang masalah kehidupan. Adat adalah satu adat manusia supaya manusia itu sejahtera. Tetapi bagaimanapun usaha itu, karena sifat individu manusia atau karena sifat manusia itu sendiri yang ingin mandiri, ingin bertanggung jawab untuk berdiri sendiri sebagai keluarga atau terpaksa atau dipaksa berdiri sendiri oleh kepala keluarga, terjadilah pemisahan tempat tinggal diantara anak – anak yang sudah kawin. Anak yang sudah kawin mandiri itu yang bertanggunng jawab kepada rumah tangganya dalam lingkungan keluarga disebut anak manjae.
Bekal pertama untuk anak manjae diberikan pimpinan keluarga baik berupa sawah-ladang dan lain – lain. Jika ripe itu berkecukupan kepda anak manjae diberikan rumah tempat tinggal atau mendirikan rumah baru di dalam kampung atau huta. Jika ripe itu belum berkecukupan, sianak manjae tadi masih menompang pada rumah lain didalam kampung atau pada rumah dikampung lain sesame semarga.
Apabila anak manjae itu menompang pada rumah lain marga maka anak manjae tadi disebut paisolat. Apabila anak manjae tadi membuka kampung yang baru, maka kampung yang baru dibangun itu dinamai sosor. Pada umumnya sosor itu dibuka untuk anak yang sulung atau anak yang bungsu, sedang anak antara yang sulung dan bungsu mendirikan rumah masih di dalam huta.
Borupun dapat pula mendirikan rumah tempat tinggal tetapi masih di dalam huta. Boleh pulamendirikan kampung yang baru yang disebut sosor tadi tetapi syaratnya adalah sangat berat. Beberapa sosor yang masih kelompok keluarga dari huta yang menjadi sumber perkembangan tuturan dan kampung dalam kaitan keluarga besar nama huta berobah status menjadi huta bolon.
Tuturan penghuni hhuta bolon itu yang masih senenek, disebut saompu dalam keluarga luas. Kelompok keluarga semakin luas disebut semarga atau semarga. Dan yang paling luas adalah Ompu Parsadaan atau nenek moyang. Inilah kelompok kekerabatan pada masyarakat Batak Toba. Tetapi apabila dilihat dari sudut tempat pengambilan isteri atau dari sudut hula – hula maka kelompok keluarga itu disebut Sahula – hula, satulang, sabona tulang dan yang paling atas adalah sabona ni ari. Jika dilihat dari sudut boru maka kelompok kekerabatan itu disebut saboru suhut, saboru tubu, saboru natua – natua, saboru sihabolonan dan boru torop, boru diampuan yaitu boru yang semarga atau serumpun marga dan boru nagojong. Karena memang kelompok keluarga adalah satu turunan dan sulit dibeda – bedakan antara tuturan dan tempat tinggal maka ada pula keluarga berdasarkan tempat tinggal yaitu sahuta, salumban, sabius dan saharajaon.
Memang disinilah peranan Dalihan Na Tolu yang dapat menghimpun kelompok kekerabatan, baik dilihat dari sudut etnis, dongan tubu ( samarga ) mupun kelompok keluarga dari sudut hula –hula atau dari sudut boru, termasuk kelompok keluarga berdasarkan tempat tinggal.

Continue lendo >>

Gabung Dong....

My Pagerank

Powered by  MyPagerank.Net
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO